Kamis, 24 November 2016

Mengapa Metode ESQ begitu Efektif?


Efektivitas suatu pelatihan, banyak bisa dilihat dari berapa besar dampak yang ditimbulkannya pada perubahan perilaku para pesertanya. Karena, tujuan utama suatu pelatihan adalah untuk pendidikan, yang secara kognitif bermaksud untuk merubah mindset para pesertanya dalam waktu singkat.

Berkembangnya ilmu psikologi membuat pelatihan menjadi semakin kaya. Di dalam pelatihan kemudian digunakan berbagai metode tambahan, yang tidak hanya bersifat kognitif, tapi juga mengaktivasi sisi emosional dari para pesertanya. Hal ini agar penanaman pengetahuan bisa lebih efektif. Karena, suatu perilaku baru bisa diubah dengan melihat komponennya, yaitu komponen A-B-C (Affect-Behavior-Cognitive).

Semakin berkembang, seumlah pelatihan kemudian menggunakan berbagai pendekatan, diantaranya dengan berbagai teknologi multimedia audiovisual. Dengan penggunaan teknologi, efektivitas suatu pelatihan bisa bertambah.

Training-training terhebat di dunia, menggunakan metode multimedia audiovisual secara efektif. Dengan menggunakan soundsystem dengan kekuatan tinggi, dan berbagai teknologi visual seperti penggunaan cahaya laser, video dengan resolusi tinggi, dan sistem layar LED raksasa yang memberikan informasi visual dengan impresi yang mendalam bagi para pesertanya.

Teknologi tinggi yang digunakan oleh para motivator kelas dunia ini, terbukti telah merubah karakter banyak orang di banyak lembaga Negara, institusi pemerintahan, sekolah-sekolah, dan swasta. Hingga kini Training ESQ telah menyentuh hingga 1,5 juta orang di seluruh dunia, dan buku ESQ telah terjual lebih dari 2 juta kopi di seluruh dunia.

Dengan teknologi tinggi yang digunakan, harga yang diberikan oleh ESQ untuk training-trainingnya tergolong murah. Jauh berbeda dengan training-training serupa di luar negeri yang harga tanda masuknya berkali-kali lipatnya.

Mengapa dengan kecanggihan teknologi tersebut Training ESQ masih bisa berjalan dengan harga tiket yang murah? Hal ini karena tujuan dari pendiri Training ESQ yang bersifat Nasionalis. Apa yang dihasilkan semata untuk menjaga keberlangsungan lembaga yang memiliki cita-cita untuk mewujudkan Indonesia Emas.

Mantan Atlet Nasional yang menyabet medali Perak PON di cabang Karate tahun 1989 yang kemudian mendirikan lembaga ESQ, menegaskan idealisme Kejayaan Nasional ini pada para karyawannya, sesering mungkin.


Sebagai seseorang yang terbiasa menempa diri secara fisik dan mental, Ary Ginanjar Agustian kemudian menuliskan buku pengembangan kecerdasan Emosi dan Spiritual sebagai hasil dari pencarian jati diri dan rahasia kesuksesannya sebagai pengusaha besar di Bali. Buku yang mengambil akar spiritual dari fondasi rohani yang dibahasakan dengan konsep manajemen ini, telah memikat hati para ahli SDM di lebih dari 6000 perusahaan di seluruh dunia. 

Rabu, 23 November 2016

Mental Blok secara Sains?



Mental Blok adalah halangan yang sifatnya psikologis - kognitif (cognitive barrier). Halangan kognitif ini membuat seseorang merasa berat saat akan melakukan sesuatu yang sifatnya baik. Mental blok juga menghalangi seseorang dari mengambil berbagai keputusan yang akan menguntungkan bagi diri kita. Mental Blok yang bersifat internal ini, membuat seseorang merasa takut saat akan melakukan sesuatu yang baru.

Mental Blok ini juga menimbulkan tumbuhnya berbagai kecemasan dan negativitas. Mental Blok ini membuat pengendalian perilaku dan pengendalian emosi tidak berjalan dengan baik. Mental Blok ini juga membuat sikap kita menjadi buruk terhadap orang lain, yang mungkin tidak memiliki kesalahan pada kita.

Mental Blok bisa berasal dari berbagai sumber. Dari apa yang kita lihat atau baca. Dari persepsi kita yang tidak utuh. Dari pengalaman kita sebelumnya. Dari pengalaman orang lain yang dituturkan kepada kita. Seringnya, pengalaman negatif-lah yang disebarkan oleh orang lain. Yang menyebabkan banyak dari kita memiliki ketakutan untuk melakukan suatu hal yang baru. Yang membuat kita takut gagal.

Lalu bagaimana cara untuk meruntuhkan mental blok dan merubah negativitas?

Kecerdasan emosi ala barat semata, tidak bisa dengan mudah membuat kita bisa bangkit dari negativitas dan kemudian bisa menjadi orang yang lebih positif dan baik. Di dalam elemen kecerdasan emosi yang dikemukakan oleh Salovey dari Harvard University di tahun 1990, hanya merumuskan 5 komponen saja, yaitu :
-          Kemampuan mengenali emosi diri
-          Kemampuan mengenali emosi orang lain
-          Kemampuan memotivasi diri
-          Kemampuan mengelola emosi diri
-          Kemampuan membina hubungan yang baik dengan orang lain.

Namun, lapangan kehidupan tidak hanya terdiri dari sesuatu yang sifatnya emosional semata. Bahkan bila dikatakan bahwa kecerdasan emosi berpengaruh pada 80% dari kesuksesan seseorang.

Ada sejumlah hal yang masih kurang dalam konsep kecerdasan emosi ala barat. Diantaranya adalah; tidak adanya komponen norma atau nilai, di dalam komponen kecerdasan emosi. Bila kita hanya mengikuti teori barat ini saja dalam hal pengembangan karakter, maka anak-anak kita tidak akan memiliki batasan perilaku. Asalkan tidak menyinggung orang lain, suatu perbuatan, yang melanggar nilai sekalipun, akan dianggap biasa dan dimaklumi.

Terbatasnya kecerdasan emosi hanya dalam 5 komponen diatas itu pun, tidak mengajarkan sifat etis,  etika, dan humanisme. Misalnya; yang masuk dalam ethics adalah sifat tolong menolong. Karena komponen tersebut tidak termasuk dalam ranah kecerdasan emosi, maka sifat kemanusiaan kita sebagai satu umat pun tergerus. Banyak diantara kita yang tidak lagi sedih atau trenyuh melihat penderitaan korban perang atau korban bencana alam. Mengapa? Karena di dalam komponen emosi cerdas tersebut, yang ada *hanya unsur Empati, unsur memahami saja*. Dan bukanlah unsur simpati, untuk saling merasakan penderitaan orang lain, dan kemudian membantunya.

Keringnya makna dalam teori kecerdasan emosi ala barat ini, membuat masyarakat kita, yang menerima kebanyakan informasi dari barat, menjadi sakit secara spiritual, atau menderita spiritual pathology.

Tak adanya norma dalam elemen kecerdasan emosi ini pun, membuat lebih banyak pelanggaran sosial dan moral tersebar di masyarakat. Dan bahayanya lagi, paham kecerdasan emosi inilah yang diambil oleh banyak intelektual dunia yang kini menjadi pengambil keputusan, di tingkat nasional, lokal, dan global. Dan ini mengakibatkan, negativitas terus tersirkulasi secara luas melalui berbagai media.

Bahkan, karena pemahaman kecerdasan emosi yang salah kaprah ini, kampanye kemanusiaan yang menggunakan foto-foto korban pun kemudian harus menerima berbagai tuduhan keji sebagai penyebar propaganda, yang akhirnya melestarikan genosida satu umat yang hingga hari ini masih terus terjadi, di Syiria dan Myanmar.

Bahkan banyak dari umat yang hingga saat ini diam dan tidak melakukan apa-apa. Karena kecerdasan emosi kita dibatasi hanya pada batas empati, dan bukan simpati. Hati kita pun di-blok dari upaya menolong.

Ikuti ulasan Mental Blok dalam Edisi berikutnya.



Selasa, 22 November 2016

Kecemasan bisa Menyebabkan Apa Saja?


Menurut Prof David Sue (2010), kecemasan adalah emosi dasar manusia yang menghasilkan reaksi tubuh yang mempersiapkan kita untuk menghadapi atau menghindari suatu masalah. Kecemasan adalah hal yang terjadi sebelum suatu kejadian atau situasi terjadi.

Prof David Sue adalah seorang Professor Emeritus dalam bidang Psikologi di Western Washington University. Disana ia menjabat sebagai direktur untuk Klinik Psikologi Konseling dan untuk Program Konseling Kesehatan Mental. Ia juga seorang associate untuk Pusat Penelitian Lintas Budaya di Western Washington University. David dan istrinya, Diane M. Sue, telah menulis bersama buku Dasar-dasar Konseling dan Psikoterapi : Praktek berbasis fakta untuk Lingkungan yang Beragam. Juga buku-buku lain seperti Memahami Psikologi Abnormal (diterbitkan 10 kali), dan Esensi Psikologi Abnormal.

Sejumlah ahli lain di berbagai belahan dunia, juga memaparkan teori mereka tentang kecemasan pada masa pensiun, contohnya melalui penelitian di  Amerika, Kanada, Nigeria, dan Indonesia.  Kecemasan ini bisa timbul karena banyak perusahaan tidak atau belum optimal dalam mempersiapkan karyawannya yang akan pensiun dalam satu sampai lima tahun ke depannya.

           Kecemasan ringan, memang bisa membuat kita lebih hati-hati. Kecemasan ringan, juga membuat kita lebih teliti. Kecemasan ringan juga membuat kita lebih waspada, terhadap keadaan di sekeliling kita.

          Namun apabila tidak ditangani, kecemasan ringan bisa berkembang menjadi kecemasan sedang, yang menimbulkan sejumlah gejala yang mengganggu pada pekerjaan kita sehari-hari. Bahkan, kecemasan bisa menimbulkan hilang konsentrasi.

Pada tahap yang lebih buruk, kecemasan sedang dapat menimbulkan sejumlah gejala fisik. Bahkan bisa memicu sejumlah gangguan dalam keseharian, seperti sakit kepala, sering berkeringat, dan lain sebagainya.

Apabila kecemasan sedang berkembang menjadi kecemasan berat, bisa memicu berbagai reaksi tubuh dan menimbulkan sejumlah gangguan yang dirasa sebagai penyakit fisik oleh seseorang. Padahal, pemicu sakitnya saat diteliti kemudian tidak terdeteksi. Kondisi ini dinamakan Psikosomatis, dimana fisik kita menjadi sakit akibat kecemasan.

Mengingat efeknya yang bisa menyebar ke berbagai hal, penting untuk kita memiliki bekal untuk memupus kecemasan yang dirasakan. Terutama bila kecemasan terjadi pada usia menjelang pensiun atau setelah pensiun. Karena, bisa memicu berbagai gejala penyakit, dan menurunkan tingkat produktivitas seseorang. Secara umum, kondisi seseorang yang sering sakit bisa menurunkan performa kerjanya, bahkan menurunkan performa kerja tim atau bagian di tempatnya bekerja.

Bagaimana cara menangani kecemasan ini? Pertama, kita harus mengukur terlebih dahulu, sejauh mana kecemasan tersebut telah berkembang, dan telah berada dalam tahapan apa. Setelah seorang individu mengetahuinya dengan menyadari gejala-gejala kecemasan yang muncul, maka tahapan selanjutnya adalah mencari akar kecemasan tersebut, dan memupusnya. Penyebab kecemasan haruslah diatasi. Apakah itu bersama dengan pasangan, atau bisa juga dengan mencari bantuan.

Salah satu bantuan yang ditawarkan oleh ESQ adalah menghadapi kecemasan dengan cara mengembangkan kecerdasan Emosional dan kecerdasan Spiritual, agar bisa menghadapi masalah apapun. Bahkan, bekal kecerdasan Emosional dan Spiritual ini, bisa membantu anda dalam menghadapi kecemasan lain yang mungkin terjadi, sebelum terjadinya.

Kecerdasan Emosional dan Spiritual ini akan menjadi semacam tameng penguat. Yang berfungsi untuk mengendalikan emosi kita, sehingga tidak terbawa larut dalam suatu masalah.

Seperti yang dikemukakan oleh DR (HC) Ary Ginanjar Agustian, pendiri ESQ, bahwa bila suatu masalah dijiwai, maka ia akan membesar, dan semua hal akan terlihat sebagai masalah. Sementara bila kita sudah bisa mengoperasikan kecerdasan kita diatas masalah, maka masalah apapun yang timbul, akan bisa kita hadapi.


Bagaimana? Ingin mengembangkan Kecerdasan Emosi dan Spiritual anda? Hubungi email kami di esqmpp@gmail.com atau via wa atau telp ke 0856-9311-9026. 

Persoalan Hidup Paling Krusial



Inginkah anda mengetahui apa persoalan hidup yang paling krusial? Orang bisa terkena depresi atau stress, karena berbagai hal seperti pemilihan jodoh, putus cinta, tidak diterima di tempat berkuliah yang diinginkan, tidak kunjung memiliki anak, karir yang mandek, atau masa pensiun yang mendekat.

Prof Dr. Diane E Papalia, Seorang Ahli dalam bidang Psikologi Perkembangan, memaparkan bahwa Pensiun merupakan salah satu diantara persoalan hidup yang paling krusial yang harus dipecahkan seseorang yang menghadapi masa pensiun.

Karena, keputusan pensiun akan mempengaruhi situasi keuangan, kondisi emosional, cara menghabiskan waktu, dan cara mereka berhubungan dengan teman dan keluarga. Kondisi seperti itulah yang menyebabkan timbulnya kecemasan dalam diri individu yang menghadapi masa pensiun.

Kecemasan menghadapi pensiun bisa terjadi pada setiap orang. Padahal, sejatinya yang seharusnya kita lakukan adalah; mempersiapkan diri untuk menghadapi persoalan hidup, sekrusial apapun. Sejatinya, kita memiliki cara atau jalan untuk menghadapi persoalan hidup sesulit apapun.
               
Caranya? Untuk mengatasi kecemasan pensiun, kita bisa mengukur kecemasan tersebut terlebih dahulu, dengan menggunakan Anxiety Rating Scale yang dibuat oleh tim R&D ESQ MPP. ESQ MPP juga menyediakan solusi untuk berbagai permasalahan yang dihadapi oleh para pensiunan, sehingga kecemasan yang dirasakan pun bisa berkurang, yang tadinya cemas berat, menjadi cemas ringan. Caranya adalah dengan mengadakan Training ESQ MPP di tempat anda.


Training ESQ secara umum akan memecahkan masalah kecemasan yang datang dari 7 core stressor yang menjadi mental blok dari seseorang dalam mencapai kesuksesan. Sementara, ESQ MPP merupakan Training ESQ yang khusus diciptakan untuk membantu persoalan seputar Persiapan Pensiun seseorang. Ingin tahu lebih lanjut mengenai Training ESQ atau Training ESQ MPP? Kirim permasalahan anda ke gina.al.ilmi@gmail.com atau hubungi 0856-9311-9026 untuk mendapatkan solusinya. 

Rabu, 16 November 2016

Mantapnya Performa Kerja Karyawan Senior







            Pernahkah anda memperhatikan, bagaimana prestasi dan performa kerja, pada karyawan anda, di masa Senior mereka? Dari sejumlah penelitian yang kami lakukan, berikut ini paparan yang bisa kami susun :
         Denney dan Palmer (1981, dalam Johnson, 2005) mengungkapkan bahwa kemampuan seseorang untuk mengatasi masalah secara praktis, meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan mencapai puncaknya pada umur 40 hingga 50 tahun, dan menurun setelah lewat usia 50 tahun. 

          Penelitian Cornelius dan Caspi (1987) menunjukkan hal yang lebih baik lagi yaitu bahwa performa seseorang dalam mengatasi masalah sehari-hari makin meningkat seiring dengan meningkatnya intelegensi sebagai hasil kristalisasi dari pengalaman hidup seseorang, hingga ke usia 70an, dan menurun setelahnya
             
           Penelitian yang dilakukan oleh Marshall & Taylor (dalam Johnson, 2005) yang dilakukan melalui survey secara nasional terhadap manager personalia di Inggris selama tahun 1997, menunjukkan bahwa: 
1. Para pekerja dewasa pertengahan lebih dapat diandalkan daripada pekerja yang lebih muda. 
2. Pekerja dewasa pertengahan juga lebih produktif, dan lebih menjanjikan laba dari investasi. 
    
      Penelitian lain yang dilakukan di Inggris oleh Goldstone dan Jones (2001, dalam Johnson, 2005) menunjukkan bahwa pekerja dewasa pertengahan lebih berpengalaman, stabil dan matang dalam pekerjaan mereka.
            
        Sebuah survey yang dilakukan di Inggris oleh Arrowsmith dan Goldrick (1996b dalam Johnson, 2005), mengungkapkan bahwa para manajer lebih memenuhi persyaratan jabatan dibanding pekerja yang lebih muda. 

      Pekerja dewasa pertengahan juga lebih bisa diandalkan untuk pekerjaan yang menghadapi konsumen yang dalam peran ini dibutuhkan kematangan, kehandalan, dan  kehati-hatian.
    
        Hasil-hasil penelitian diatas menunjukkan hal-hal yang positif pada para pekerja yang berusia diatas 40 tahun. Dan hasil ini menunjukkan potensi dari para pekerja berusia dewasa menengah tersebut. Mereka pun memiliki kematangan dalam memegang posisi yang memiliki tanggung jawab yang tinggi dan berat. 

Marshall dan Taylor (dalam Johnson, 2005) menyimpulkan dari berbagai hasil penelitian yang membahas tentang hubungan antara usia dengan performa kerja. Hasilnya membuktikan bahwa usia tidak mempengaruhi performa kerja, dan hasil positif justru menunjukkan adanya kemungkinan korelasi positif antara usia dengan performa kerja seseorang, 

Studi literatur yang dilakukan oleh Marshall dan Taylor (2005) pada penelitian yang dibuat oleh Ferris dan king (1992), menunjukkan bahwa saat produktivitas diukur secara obyektif, performa seseorang meningkat seiring dengan usia. 

Namun karena beberapa faktor yang terjadi pada masa dewasa pertengahan seperti kondisi kesehatan dan berkurangnya kemampuan kognitif, maka para supervisor dari para pekerja dewasa pertengahan menilai ada hubungan yang negatif antara usia dan performa kerja

Secara khusus, Sternberg dan Grigorenko (dalam Johnson 2005) mengutip data dari Williams, Denney dan Schadler yang menunjukkan pertumbuhan kemampuan praktikal seiring dengan bertambahnya usia, walaupun kemampuan akademisnya menurun

           Untuk itulah, sebenarnya para pekerja berusia menengah keatas, sebenarnya memiliki potensi yang tinggi, dan bila tidak dioptimalkan, justru akan terjadi penurunan sebelum tiba waktunya. Untuk itulah, penting untuk para calon pensiunan untuk memperoleh Pelatihan khusus untuk Para Pekerja Senior, agar bisa tetap berprestasi di usia menengah keatas. 
 
Bila kita memberikan Training pada usia yang tepat, kita akan memperbesar kemungkinan untuk mereka mencapai kesuksesan, di masa bekerja, dan pada masa setelah mereka bekerja. Seperti disimpulkan dari berbagai penelitian tersebut, mengenai betapa tingginya potensi yang sebenarnya dimiliki oleh para pekerja yang berusia di atas 40 tahun tersebut. 
          Dan dengan begitu juga memberikan motivasi pada para pekerja yang lebih muda, untuk bekerja dengan loyal dan optimal. Dengan sendirinya, bila performa kerja meningkat, maka target yang ditetapkan oleh perusahaan bisa dicapai dengan baik. Ini tentu akan menjadi prestasi yang baik untuk tim HRD yang menangani perusahaan tersebut. 

         Untuk mengetahui lebih lanjut tentang program MPP 40
hubungi : 

021- 2940 – 6969 (ext) 174 dengan Irna (Telemarketing kami)

Atau menghubungi Sales Leader kami : 

Ririn (0822 9915 3339), 

Mario (0812 1236 6028)
atau dengan Sales Manager kami, 

Tyo (0853 5353 0775).




Apakah anda mengalami Psikosomatis?



Mungkinkah para pekerja anda tengah cemas?

          Di tengah masa karir seseorang, yaitu pada masa dewasa pertengahan, ternyata banyak pekerja yang merasakan kecemasan. Padahal, dalam penelitian Gallagher-Thompson D, Steffen A, Thompson LW, et al. dalam  buku “Handbook of Behavioral and Cognitive Therapies with Older Adults”. Springer, (2007)  mengungkapkan bahwa gangguan kecemasan pada  dewasa pertengahan memiliki korelasi dengan :
· Meningkatnya depresi,
· menurunnya kualitas hidup,
· menurunnya kemampuan persepsi fisik
· menurunnya kemampuan mental
· menurunnya vitalitas,
· menyebabkan kemunduran fisik,
· kualitas hidup yang rendah,
· makin mudahnya seseorang terkena penyakit,
· dan makin sering mengunjungi dokter atau rumah sakit, 
yang menimbulkan tingginya biaya yang harus dikeluarkan. Faktor biaya ini sendiri menjadi salah satu penyebab timbulnya kecemasan. 

Secara emosional, Gallagher dan Thompson (dalam Springer, 2007) menyampaikan bahwa, tubuh bereaksi terhadap kecemasan dengan caranya sendiri. Ditemukan bahwa pada dewasa pertengahan, gangguan psikiatri yang terjadi muncul secara bersamaan antara unsur fisik dan emosional. Karena itulah, penting untuk Perusahaan, memberikan Pelatihan MPP 40 untuk menghapus kecemasan yang dirasakan oleh para pekerja dewasa menengah keatas. 


 Depresi menyebabkan orang merasakan berbagai gangguan tubuh


     Contohnya, gejala fisik munculnya depresi bersamaan dengan sakit tertentu. Dan ada gejala fisik yang bersamaan muncul dengan depresi itu yaitu berkurangnya tidur, gangguan konsentrasi, gangguan atensi, gangguan mengingat, dan sikap agitasi (menyerang). 
     
    Dan ada juga gangguan kecemasan yang timbul bersama dengan masalah medis termasuk diantaranya sakit dada dan sakit perut, sakit kepala, dan nafas menjadi pendek.
     
     Apabila kita mengalami gejala seperti yang disebut diatas, bisa jadi kita tidak benar-benar sakit, tapi hanya gangguan kecemasan saja atau yang berhubungan dengan psikosomatis (penyakit yang timbul karena sebab psikologis), dan penyakit psikosomatis tidak bisa dideteksi secara medis, tapi bisa dirasakan.





    Bila kita mengalami psikosomatis, obat-obatan dari dokter tidak akan membantu, karena tidak mengobati langsung pada masalahnya. Yang harus dilakukan adalah mencari kawan untuk curhat, konsultasi pada pemuka agama, atau konseling dengan psikolog atau psikoterapis, yang bisa membantu anda.

     Selain itu, pendekatan spiritual bisa membantu mengatasi psikosomatis dan memberikan ketenangan pada mereka yang cemas.  Secara lengkap, ESQ memberikan pendekatan yang menyeluruh yang meliputi unsur spiritual, medis, psikologi, finansial dan bisnis, sebagai bekal yang lengkap dalam sebuah paket Pelatihan untuk Para Pekerja Senior. Pelatihan ini berfungsi untuk meredakan kecemasan pekerja, dan memberikan bekal lengkap untuk kehidupan mereka, dalam berbagai aspek.

   Untuk jelasnya, anda bisa mengunjungi : 
     website resmi ESQ MPP di http://esqmpp.com 
     atau mengirimkan email ke : esqmpp@gmail.com 
    untuk request InHouse Training atau mendaftar di Public Training ESQ MPP. 

     Main office kami terletak di : 
    Menara 165 Lantai 24, Jl. TB. Simatupang Kav. 1, Cilandak Jakarta Selatan. 
   Telp :  +62 (21)788-48-165. 
   
   Atau bisa telpon atau sms ke :
   Sales Leader kami, 
   Tio di : 0853 5353 0775 atau 
   Mario di : 0878-0923-2315. atau ke 
   Ririn di : 0822-9915-3339.




Mengapa Pekerja Senior Cemas?






            Telah banyak diketahui bahwa para pekerja senior mengalami saat-saat yang penuh kecemasan. Bagaimana pendapat para ahli mengenai hal ini? 

            Seorang ahli Psikologi, Angela Stinson dari Strayer University, menyampaikan dalam sebuah Jurnal, bahwa saat bekerja, banyak orang yang berhadapan dengan kecemasan dari waktu ke waktu dalam keseharian mereka. Banyak juga orang-orang yang merasakan kecemasan dalam kurun waktu yang lama, namun tidak menyadarinya sampai performa kerjanya menjadi terganggu. 




            Mereka yang menderita kecemasan bisa jadi terlihat bisa bekerja secara normal, karena itulah  kecemasan dan stress menjadi tidak bisa dideteksi dan tidak tertangani dengan baik. Orang-orang dengan kecemasan yang tinggi bisa terus melakukan rutinitas mereka dan tidak menyadari efek jangka panjang dari kondisi yang mereka rasakan dan pengaruhnya pada kesehatan dan produktivitas kerjanya.

            Karena itulah, ESQ mempersiapkan sesi khusus Wisdom Living, dalam Training untuk Pekerja Senior. Sesi Wisdom Living ini diberikan untuk memastikan setiap peserta mendapatkan arahan dalam hidupnya kembali. Sesi Wisdom Living ini juga terbukti membuat peserta menurun kecemasannya, dan bahkan mereka merasakan semangat hidup kembali. Mereka kemudian menjadi bersemangat untuk melakukan aktivitas bermakna setelah mereka pensiun.

Di dalam Training ini kita diajak untuk melewati spiritual journey dimana kita melihat betapa tidak terbatasnya kuasa Tuhan Yang Maha Dahsyat. Dan di dalam training tersebut kita didorong untuk menemukan tujuan hidup yang besar, agar tumbuh harapan hidup dan optimisme untuk menghadapi kehidupan, dan menumbuhkan keyakinan dan kekuatan yang membuat kita bisa mencapai cita-cita yang kita inginkan, tanpa melihat batasan usia. 

Hal ini sejalan dengan temuan dari Jaffe (2007, dalam Stinson, 2010), yang mengatakan bahwa sebagai hasil dari kecemasan yang seseorang rasakan, akan : 
- menurunkan kemampuan seseorang untuk berpikir dengan benar, 
- tidak bisa berfungsi secara efektif, dan 
- membuat seseorang menjadi cacat, secara fisik dan emosional. 


Marshall dan Taylor (2008) menyampaikan bahwa dalam perumusan kebijakan yang berkaitan dengan tenaga kerja senior, diperlukan suatu pelatihan khusus agar mereka bisa menyiapkan proses pensiunnya dan mulai memiliki pendapatan bisa menutupi kebutuhan mereka setelah pensiun nantinya. 

Syarat bagi program pelatihan yang diharapkan bisa didapatkan oleh para pekerja senior adalah program yang : 

1. Bisa meningkatkan skill, motivasi, dan mobilitas dari pekerja senior
2. Memberikan good practice yang mendukung dan diperlukan untuk pembelajaran sepanjang hayat
         




Sehubungan dengan teori diatas, kami dari ESQ MPP mengaplikasikannya dengan bantuan sejumlah tenaga ahli yang telah merancang agar di dalam pelatihan yang kami lakukan, kebutuhan para pekerja senior bisa tercukupi.

       Mengapa ESQ MPP memiliki kepuasan peserta yang sangat tinggi adalah karena dalam Training ESQ MPP Premium, kami memberikan pembekalan materi dengan cara pelatihan yang sangat profesional, dalam bidang : 

·         Leverage Mindset
·         Financial Quotient
·         Wisdom Living
·         Healthy Session
·         Psychology Session

Sebagai salah satu provider yang bergerak untuk menjadi Provider Training nomor 1 di Indonesia, kami terus melakukan terobosan dalam berbagai bidang. Untuk keterangan lebih lengkap mengenai Training Masa Persiapan Pensiun dari ESQ, mohon untuk mengunjungi : www.esqmpp.com atau kirim email ke : esqmpp@gmail.com